UNESCO Tetapkan Tari Saman Sebagai Warisan Budaya Tak Benda, Pemerintah Aceh Gelar Syukuran
UNESCO Tetapkan Tari Saman Sebagai Warisan Budaya Tak Benda, Pemerintah Aceh Gelar Syukuran BANDA ACEH - Kabar gembira datang dari dunia seni dan budaya Indonesia. Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan...
UNESCO Tetapkan Tari Saman Sebagai Warisan Budaya Tak Benda, Pemerintah Aceh Gelar Syukuran
BANDA ACEH - Kabar gembira datang dari dunia seni dan budaya Indonesia. Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) secara resmi menetapkan Tari Saman sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia. Pengakuan ini disambut sukacita oleh masyarakat Aceh, daerah asal tarian khas tersebut. Pemerintah Aceh pun menggelar acara syukuran sebagai bentuk apresiasi dan komitmen untuk terus melestarikan Tari Saman.
Tari Saman, yang berasal dari dataran tinggi Gayo, Aceh, dikenal dengan kekompakan gerakan penari yang duduk bersimpuh sambil melantunkan syair-syair bernafaskan Islam. Tarian ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga sarat akan nilai-nilai pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, dan kebersamaan.
Penetapan Tari Saman sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia oleh UNESCO merupakan pengakuan atas nilai-nilai universal yang terkandung dalam tarian ini. Proses pengajuan Tari Saman sebagai warisan budaya telah melalui perjalanan panjang dan melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, tokoh adat, seniman, dan masyarakat Aceh.
Sebagai bentuk syukur atas pengakuan tersebut, Pemerintah Aceh menggelar acara syukuran yang dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat. Acara tersebut diisi dengan berbagai kegiatan, termasuk pertunjukan Tari Saman massal, pameran seni budaya, dan dialog interaktif tentang pelestarian warisan budaya.
"Penetapan Tari Saman sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia adalah sebuah kehormatan bagi seluruh masyarakat Aceh," ujar Nova Iriansyah, Gubernur Aceh, dalam sambutannya pada acara syukuran. "Ini adalah momentum penting untuk semakin meningkatkan kesadaran dan kecintaan kita terhadap budaya sendiri, serta untuk mewariskannya kepada generasi mendatang."
Lebih lanjut, Gubernur Nova Iriansyah menegaskan komitmen Pemerintah Aceh untuk terus mendukung pelestarian Tari Saman. "Kami akan terus berupaya untuk mengembangkan Tari Saman, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Kami juga akan mendorong agar Tari Saman dapat dipromosikan ke tingkat nasional maupun internasional," tambahnya.
Selain menggelar acara syukuran, Pemerintah Aceh juga telah menyiapkan berbagai program untuk melestarikan Tari Saman. Program-program tersebut meliputi pelatihan tari, pembentukan sanggar-sanggar tari, penyelenggaraan festival tari, dan pendokumentasian Tari Saman dalam berbagai media.
Sementara itu, tokoh adat Gayo, Tgk. Abdul Wahab, menyampaikan apresiasinya atas upaya pemerintah dan masyarakat dalam melestarikan Tari Saman. "Tari Saman adalah identitas kita sebagai orang Gayo. Kita harus terus menjaga dan melestarikannya agar tidak punah," ujarnya.
Penetapan Tari Saman sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi pengembangan pariwisata di Aceh. Dengan semakin dikenalnya Tari Saman, diharapkan semakin banyak wisatawan yang datang ke Aceh untuk menyaksikan langsung keindahan tarian ini.
Ke depan, Pemerintah Aceh akan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk UNESCO, untuk memastikan Tari Saman tetap lestari dan terus berkembang. Pemerintah juga mengajak seluruh masyarakat Aceh untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan Tari Saman sebagai bagian dari identitas budaya bangsa.
Dengan ditetapkannya Tari Saman sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia, diharapkan kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya semakin meningkat. Tari Saman bukan hanya milik masyarakat Aceh, tetapi juga milik seluruh bangsa Indonesia. Oleh karena itu, mari kita jaga dan lestarikan Tari Saman sebagai warisan budaya yang tak ternilai harganya.
Sumber: news.detik.com