Kesehatan 16 Jun 2025, 14:57

Tren 'Self-Diagnosis' via Internet Meningkat, IDI Ingatkan Bahaya dan Minta Masyarakat Berkonsultasi dengan Dokter

Tren 'Self-Diagnosis' via Internet Meningkat, IDI Ingatkan Bahaya dan Minta Masyarakat Berkonsultasi dengan Dokter Jakarta, [Tanggal Hari Ini] – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyoroti peningkatan tre...

Tren 'Self-Diagnosis' via Internet Meningkat, IDI Ingatkan Bahaya dan Minta Masyarakat Berkonsultasi dengan Dokter

Jakarta, [Tanggal Hari Ini] – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyoroti peningkatan tren self-diagnosis atau mendiagnosis penyakit sendiri melalui internet yang semakin mengkhawatirkan di kalangan masyarakat. Di tengah kemudahan akses informasi kesehatan secara daring, IDI mengingatkan bahaya praktik ini dan mengimbau masyarakat untuk selalu berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

"Kami melihat ada kecenderungan masyarakat untuk mencari informasi penyakit di internet dan kemudian menyimpulkan sendiri diagnosisnya. Ini adalah praktik yang berisiko dan dapat membahayakan kesehatan," ujar [Nama Juru Bicara IDI], [Jabatan] IDI dalam keterangan persnya hari ini.

IDI menjelaskan bahwa self-diagnosis dapat menyebabkan beberapa masalah serius, di antaranya:

  • Diagnosis yang tidak akurat: Informasi yang tersedia di internet seringkali bersifat umum dan tidak spesifik. Gejala suatu penyakit dapat mirip dengan penyakit lain, sehingga masyarakat awam sulit membedakannya secara akurat.
  • Pengobatan yang tidak tepat: Berdasarkan diagnosis yang salah, seseorang dapat melakukan pengobatan sendiri (swamedikasi) yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Hal ini dapat memperburuk penyakit, menimbulkan efek samping yang berbahaya, atau menyebabkan resistensi terhadap obat.
  • Keterlambatan penanganan medis: Karena merasa sudah mengetahui penyakitnya, seseorang mungkin menunda untuk mencari pertolongan medis profesional. Keterlambatan ini dapat berakibat fatal, terutama pada penyakit yang memerlukan penanganan segera.
  • Kecemasan berlebihan: Terlalu banyak mencari informasi tentang penyakit di internet dapat memicu kecemasan dan ketakutan yang berlebihan, bahkan pada kondisi yang sebenarnya tidak serius.

IDI menyarankan agar masyarakat bijak dalam menggunakan internet sebagai sumber informasi kesehatan. Informasi yang diperoleh dari internet sebaiknya hanya dijadikan sebagai referensi awal dan tidak dijadikan dasar untuk mendiagnosis diri sendiri.

"Internet bisa menjadi sumber informasi yang bermanfaat, tetapi tidak bisa menggantikan peran dokter. Dokter memiliki pengetahuan, pengalaman, dan alat yang memadai untuk mendiagnosis penyakit secara akurat dan memberikan penanganan yang tepat," tegas [Nama Juru Bicara IDI].

Sebagai contoh, IDI menyoroti informasi mengenai Vitamin D yang sering dicari di internet. Meskipun Vitamin D penting untuk kesehatan tulang dan sistem kekebalan tubuh, mendiagnosis kekurangan Vitamin D sendiri tanpa pemeriksaan medis yang tepat dan kemudian mengonsumsi suplemen secara berlebihan dapat berbahaya.

Selain itu, IDI juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi peningkatan kasus COVID-19, seperti yang terjadi di India. Belajar dari pengalaman negara lain, masyarakat diimbau untuk tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan dan segera berkonsultasi dengan dokter jika mengalami gejala COVID-19.

"Penting untuk diingat, diagnosis dan penanganan penyakit harus dilakukan oleh tenaga medis yang profesional. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter jika Anda memiliki keluhan kesehatan atau merasa khawatir tentang kondisi Anda," pungkas [Nama Juru Bicara IDI].

IDI berharap dengan adanya imbauan ini, masyarakat semakin sadar akan pentingnya berkonsultasi dengan dokter dan tidak terjebak dalam praktik self-diagnosis yang berbahaya. Kesehatan adalah aset yang berharga, dan menjaga kesehatan membutuhkan penanganan yang tepat dari ahlinya.

Sumber: liputan6.com