Sosial & Budaya 20 Jun 2025, 07:56

Sejarah dan makna Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei

Sejarah dan Makna Hari Kebangkitan Nasional yang Diperingati Setiap 20 Mei Jakarta (ANTARA) - Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Harkitnas menj...

Sejarah dan Makna Hari Kebangkitan Nasional yang Diperingati Setiap 20 Mei

Jakarta (ANTARA) - Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Harkitnas menjadi momentum penting untuk mengenang sejarah awal mula kesadaran bangsa dalam memperjuangkan kemerdekaan dan persatuan. Lalu, apa saja fakta menarik di balik peringatan Harkitnas?

Kebangkitan Nasional lahir dari aspirasi dan intelektualitas para anak bangsa, yang ditandai dengan berdirinya organisasi Sarekat Islam dan Boedi Utomo, serta ikrar Sumpah Pemuda. Namun, Hari Kebangkitan Nasional erat kaitannya dengan organisasi Boedi Utomo sebagai pelopor pergerakan nasional.

Peristiwa penting ini bermula pada awal abad ke-20, saat masyarakat dari berbagai daerah mulai menyadari bahwa mereka adalah bagian dari satu bangsa, yakni bangsa Indonesia, bukan lagi kelompok suku atau wilayah yang terpisah.

Pada masa itu, sistem pemerintahan kolonial Belanda sangat eksploitatif dan membuat rakyat pribumi menderita. Kondisi ini memicu sindiran dari kaum liberal, salah satunya melalui novel "Max Havelaar" karya Eduard Douwes Dekker yang berisi kecaman terhadap kebijakan pemerintah kolonial.

Sebagai respons, pemerintah Belanda menerapkan "Politik Etis" yang mencakup irigasi, edukasi, dan transmigrasi. Meskipun membuka akses pendidikan bagi sebagian pribumi, ketimpangan sosial tetap terjadi.

Di tengah situasi sulit ini, muncul kaum intelektual pribumi yang menjadi motor penggerak perubahan. Periode ini diawali dengan berdirinya organisasi Boedi Utomo pada 20 Mei 1908 di Jakarta oleh Dr. Soetomo dan para pelajar STOVIA. Boedi Utomo menjadi tonggak awal gerakan nasional yang terorganisir di tanah air.

Boedi Utomo lahir dari keresahan akan penderitaan masyarakat akibat penjajahan dan keinginan untuk mencerdaskan bangsa melalui pendidikan. Dr. Wahidin Sudirohusodo, seorang dokter dan alumni STOVIA dari Surakarta, menjadi tokoh penting dalam kelahiran Boedi Utomo.

Ia mengemukakan gagasan untuk mendirikan organisasi yang fokus pada peningkatan pendidikan dan kesejahteraan bangsa, melalui dana pendidikan bagi pelajar pribumi berprestasi yang kurang mampu. Ide ini didukung oleh Soetomo dan rekan-rekannya di STOVIA yang memiliki semangat nasionalisme tinggi.

Tujuan utama Boedi Utomo adalah mencerdaskan bangsa Indonesia melalui bidang sosial dan budaya, tanpa terlibat langsung dalam politik. Organisasi ini berfokus pada peningkatan pendidikan, kesehatan, dan kebudayaan sebagai sarana membangkitkan kesadaran nasional dan memperbaiki kondisi rakyat pribumi.

Boedi Utomo juga mengusung semboyan "Indie Vooruit" (Hindia Maju), yang menandakan aspirasi kemajuan bagi seluruh Hindia Belanda tanpa membatasi wilayah atau golongan tertentu. Organisasi ini kemudian menginspirasi lahirnya berbagai organisasi pergerakan lain yang lebih politis.

Sejumlah organisasi lain seperti Sarekat Islam, Indische Partij, Sarekat Dagang Islam, Muhammadiyah, dan Taman Siswa juga turut terinspirasi untuk membangun bangsa.

Pada tahun 1948, di tengah situasi krisis Indonesia, Presiden Soekarno menetapkan tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, bertepatan dengan peringatan 40 tahun berdirinya Boedi Utomo. Penetapan ini bertujuan untuk memperkuat semangat persatuan dan nasionalisme di tengah perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari ancaman kolonialisme.

Kemudian, sejak 16 Desember 1959, Hari Kebangkitan Nasional atau Harkitnas ditetapkan secara resmi melalui Keputusan Presiden Nomor 316 tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional yang Bukan Hari Libur. Sejak saat itu, Harkitnas diperingati setiap tanggal 20 Mei sebagai momen mengenang perjuangan dan awal mula semangat kebangkitan nasional.

Makna Hari Kebangkitan Nasional

Hari Kebangkitan Nasional bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya persatuan, semangat gotong royong, dan nasionalisme dalam menghadapi tantangan zaman.

Sejak era 1900-an, bangsa Indonesia telah membuktikan kemampuannya untuk bangkit, bersatu, mengusir penjajah, meraih kemerdekaan, akses pendidikan, dan mempertahankan keutuhan negara di tengah berbagai krisis.

Semangat kebangkitan nasional ini harus diwariskan dari generasi ke generasi, menjadi fondasi dalam membangun demokrasi, menjaga kedaulatan, serta menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dalam kondisi arus globalisasi dan tantangan zaman, semangat Hari Kebangkitan Nasional tetap relevan sebagai pengingat bahwa kebangkitan bangsa dimulai dari kesadaran dan persatuan seluruh anak bangsa. Peringatan ini menjadi momentum bagi seluruh elemen bangsa untuk terus berkontribusi dalam memajukan Indonesia, sesuai dengan bidang dan keahlian masing-masing.

Sumber: antaranews.com