Kesehatan 17 Jun 2025, 01:29

Rumah Sakit di Jawa Tengah Kewalahan Tangani Pasien Demam Berdarah Akibat Perubahan Iklim (16 Juni 2025)

Rumah Sakit di Jawa Tengah Kewalahan Tangani Pasien Demam Berdarah Akibat Perubahan Iklim (16 Juni 2025) SEMARANG, JAWA TENGAH – Lonjakan kasus demam berdarah (DBD) di Jawa Tengah telah menyebabkan ru...

Rumah Sakit di Jawa Tengah Kewalahan Tangani Pasien Demam Berdarah Akibat Perubahan Iklim (16 Juni 2025)

SEMARANG, JAWA TENGAH – Lonjakan kasus demam berdarah (DBD) di Jawa Tengah telah menyebabkan rumah sakit kewalahan dalam menangani pasien. Peningkatan kasus ini diduga kuat disebabkan oleh perubahan iklim ekstrem yang memicu peningkatan populasi nyamuk Aedes aegypti, vektor utama penyakit DBD. Situasi ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dan dinas kesehatan setempat.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, terjadi peningkatan kasus DBD hingga 150% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan ini terutama terjadi di wilayah perkotaan seperti Semarang, Solo, dan Yogyakarta, serta beberapa kabupaten yang mengalami curah hujan tinggi dan perubahan suhu yang signifikan.

"Kami melihat adanya korelasi yang kuat antara perubahan iklim dan peningkatan kasus DBD," ujar Dr. Siti Aminah, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, dalam konferensi pers di Semarang, Senin (16/6/2025). "Curah hujan yang tinggi menciptakan genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Suhu yang lebih hangat juga mempercepat siklus hidup nyamuk, sehingga populasi mereka meningkat dengan cepat."

Rumah sakit di berbagai daerah melaporkan peningkatan signifikan dalam jumlah pasien DBD yang dirawat. Beberapa rumah sakit bahkan terpaksa membuka tenda darurat untuk menampung pasien tambahan. Kekurangan tenaga medis dan tempat tidur menjadi tantangan utama dalam menangani lonjakan pasien ini.

"Kami kewalahan dengan jumlah pasien yang terus bertambah setiap hari," kata seorang perawat di RSUP Dr. Kariadi Semarang yang enggan disebutkan namanya. "Kami berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan pelayanan terbaik, tetapi sumber daya kami sangat terbatas."

Selain faktor lingkungan, kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan juga menjadi faktor pendorong peningkatan kasus DBD. Banyak warga yang masih abai terhadap pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan membiarkan genangan air di sekitar rumah mereka.

Pemerintah daerah telah mengambil berbagai langkah untuk mengatasi masalah ini, termasuk penyuluhan kepada masyarakat tentang PSN, fogging di wilayah-wilayah yang rawan DBD, dan peningkatan kapasitas rumah sakit. Namun, upaya ini belum sepenuhnya efektif karena luasnya wilayah yang terdampak dan keterbatasan sumber daya.

"Kami terus berupaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya PSN," kata Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dalam sebuah pernyataan resmi. "Kami juga akan meningkatkan koordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah lain untuk mengatasi masalah ini secara komprehensif."

Para ahli kesehatan juga menekankan pentingnya penelitian lebih lanjut tentang dampak perubahan iklim terhadap penyebaran penyakit menular seperti DBD. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang mekanisme penyebaran penyakit, strategi pencegahan dan pengendalian dapat dirumuskan secara lebih efektif.

"Perubahan iklim adalah tantangan global yang membutuhkan solusi global," kata Prof. Bambang Susilo, seorang ahli epidemiologi dari Universitas Gadjah Mada. "Kita perlu berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan teknologi untuk mengatasi dampak perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat."

Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah-langkah pencegahan seperti membersihkan lingkungan dari genangan air, menggunakan kelambu saat tidur, dan menggunakan obat nyamuk. Jika mengalami gejala DBD seperti demam tinggi, sakit kepala, dan nyeri otot, segera periksakan diri ke dokter.

Lonjakan kasus DBD di Jawa Tengah menjadi pengingat akan dampak nyata perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat. Diperlukan tindakan kolektif dan komprehensif dari semua pihak untuk mengatasi masalah ini dan melindungi masyarakat dari ancaman penyakit menular yang semakin meningkat.

Sumber: liputan6.com