Ekonomi & Bisnis 14 Jun 2025, 13:34

Peringatan dari Pengusaha: Ekonomi RI Lampu Kuning

Peringatan dari Pengusaha: Ekonomi RI Lampu Kuning Jakarta, CNN Indonesia – Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) memberikan sinyal тревога terkait kondisi perekonomian Indonesia saat ini. Pertumbuhan...

Peringatan dari Pengusaha: Ekonomi RI Lampu Kuning

Jakarta, CNN Indonesia – Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) memberikan sinyal тревога terkait kondisi perekonomian Indonesia saat ini. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2025 yang hanya mencapai 4,87% menjadi sorotan utama. Angka ini dinilai sebagai indikasi "lampu kuning" yang memerlukan perhatian serius dari pemerintah, pelaku usaha, dan seluruh lapisan masyarakat.

Ketua Umum APINDO, Shinta Kamdani, mengungkapkan kekhawatirannya dalam acara Diplomat Success Challenge di Hallf Patiunus, Jakarta Selatan, Jumat (13/6/2025). Shinta menilai bahwa angka pertumbuhan ekonomi kuartal I tahun ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Angka ini adalah lampu kuning. Bukan hanya untuk pemerintah maupun pelaku industri besar, tetapi juga untuk kita semua. Karena dalam perekonomian modern, everything is interconnected," ujar Shinta.

Tekanan Global dan Penurunan Daya Beli

Menurut Shinta, perlambatan ekonomi ini tidak terlepas dari tekanan kompetisi global yang semakin ketat. Ketidakpastian geopolitik global, perubahan pola konsumsi masyarakat, dan penurunan daya beli menjadi faktor-faktor yang memperburuk situasi.

"Tekanan ini semakin menantang apabila dilihat dari kondisi sektor ketenagakerjaan di Indonesia," imbuhnya.

Data dari BPJS Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa lebih dari 40 ribu pekerja terpaksa mengajukan klaim Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) hanya dalam tiga bulan pertama tahun ini. Sektor-sektor padat karya seperti tekstil, garmen, dan elektronik menjadi yang paling terdampak.

Sektor Padat Karya Paling Terdampak

Sektor tekstil, garmen, dan elektronik selama ini menjadi tulang punggung industri padat karya di Indonesia. Namun, sektor-sektor ini mengalami tekanan berat akibat perubahan kondisi ekonomi. Banyak perusahaan terpaksa melakukan efisiensi, termasuk pengurangan tenaga kerja.

"Sektor tekstil, garmen, dan elektronik yang selama ini menjadi laborintensive backbone industri padat karya adalah yang paling terdampak," jelas Shinta.

Perlunya Strategi Baru

Shinta menekankan bahwa pemerintah dan pengusaha tidak bisa lagi mengandalkan strategi yang sama untuk menghadapi tantangan ekonomi saat ini. Kondisi ini menuntut adanya refleksi dan penyusunan langkah-langkah baru yang lebih adaptif.

"Ini adalah sinyal tanda bahwa kita tidak bisa menjalankan strategi yang sama dan berharap hasil yang berbeda. Ini adalah momen untuk kita melakukan refleksi dan menyusun langkah baru yang adaptif," tegasnya.

Shinta juga menyoroti pentingnya pendekatan dan mentalitas baru dalam menghadapi tantangan ekonomi. Kewirausahaan, menurutnya, memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan solusi dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Kita membutuhkan pendekatan baru, mentalitas baru, dan di sinilah peran kewirausahaan menjadi tidak tergantikan," tuturnya.

Momentum untuk Refleksi

Peringatan dari APINDO ini menjadi momentum penting bagi semua pihak untuk melakukan refleksi dan evaluasi terhadap strategi ekonomi yang ada. Pemerintah, pengusaha, dan masyarakat perlu bekerja sama untuk mencari solusi yang inovatif dan berkelanjutan.

Langkah-langkah konkret seperti peningkatan investasi, pengembangan sektor-sektor unggulan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan perbaikan iklim usaha menjadi kunci untuk mengatasi tantangan ekonomi dan mendorong pertumbuhan yang lebih inklusif. Dengan kerja keras dan kolaborasi, Indonesia dapat melewati masa-masa sulit ini dan mencapai kemajuan ekonomi yang berkelanjutan.

Sumber: finance.detik.com