Sosial & Budaya 16 Jun 2025, 02:48

Pemerintah Gencarkan Sosialisasi Pelestarian Bahasa Daerah

KNKT: Pesawat Jatuh di BSD Tanpa Black Box, Diduga Pilot Sempat Berkomunikasi dengan Menara Kontrol JAKARTA, KOMPAS.com - Pesawat Tecnam P2006T dengan nomor registrasi PK-IFP milik Indonesia Flying Cl...

KNKT: Pesawat Jatuh di BSD Tanpa Black Box, Diduga Pilot Sempat Berkomunikasi dengan Menara Kontrol

JAKARTA, KOMPAS.com - Pesawat Tecnam P2006T dengan nomor registrasi PK-IFP milik Indonesia Flying Club yang jatuh di Lapangan Sunburst, BSD City, pada Minggu (19/5) lalu, ternyata tidak dilengkapi dengan black box. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono, dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (20/5).

"Enggak punya black box," ujar Soerjanto kepada wartawan.

Meski tanpa black box, KNKT terus melakukan investigasi untuk mengungkap penyebab jatuhnya pesawat yang menewaskan tiga orang tersebut. Soerjanto menjelaskan bahwa sebelum kejadian, pilot pesawat sempat berkomunikasi dengan menara kontrol di Bandara Halim Perdanakusuma dan Bandara Soekarno-Hatta (Cengkareng).

"Kita belum meng-interview atau belum minta data ke Bandara Halim, ke towernya Halim, apa isi percakapan terakhir dan nanti kita akan minta rekaman dari percakapan itu, juga mereka sempat melakukan percakapan dengan menara kontrol dari Cengkareng. Maka kita nanti juga akan minta percakapan itu," jelasnya.

KNKT juga menduga bahwa pilot pesawat sengaja mengarahkan pesawat ke Lapangan Sunburst untuk melakukan pendaratan darurat. Indikasi ini muncul berdasarkan analisis lintasan pesawat yang tidak lazim.

"Kita melihat bahwa pilot intended atau berkeinginan menuju ke lapangan itu untuk melakukan pendaratan darurat di lapangan itu, karena kalau tidak diarahkan dengan sengaja, ya enggak mungkin akan ke situ, karena treknya itu kalau ke Pondok Cabe agak lurus, ini agak melenceng," kata Soerjanto.

Soerjanto menambahkan, Lapangan Sunburst dianggap sebagai lokasi ideal untuk melakukan pendaratan darurat. Namun, pesawat gagal mencapai lapangan tersebut dan akhirnya jatuh.

"Kalau kita lihat dari atas, kalau kita mau melakukan pendaratan, yang terbaik adalah tempatnya di lapangan yang kemarin kecelakaan itu, cuma masalahnya sebelum berhasil mencapai lapangan, pesawat sudah terburu terkena pohon, terus terpental akhirnya berhenti di lereng lapangan tersebut," tuturnya.

Meskipun demikian, KNKT belum dapat menyimpulkan penyebab pasti pilot memutuskan untuk melakukan pendaratan darurat. Investigasi lebih lanjut masih diperlukan untuk mengungkap faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kecelakaan ini.

"Kita belum tahu apa yang menyebabkan pilot mengarahkan pesawatnya untuk mendarat di situ, karena kalau tidak ada masalah dengan pesawat pilot pasti akan mendaratkan di bandara tujuan yaitu Pondok Cabe. Tapi karena sesuatu hal yang kita belum tahu apa penyebabnya," ungkap Soerjanto.

Pesawat Tecnam P2006T dengan nomor registrasi PK-IFP jatuh di Lapangan Sunburst, BSD City, pada Minggu (19/5). Insiden ini menyebabkan tiga orang yang berada di dalam pesawat meninggal dunia, yaitu pilot Capt Pulu Darmawan, co-pilot Capt Suanda, dan teknisi Capt Farid Ahmad.

Kementerian Perhubungan menjelaskan bahwa pesawat tersebut berangkat dari Bandara Tanjung Lesung, Pandeglang, Banten, dan hendak menuju Bandara Pondok Cabe, Tangerang Selatan. KNKT terus mengumpulkan data dan informasi untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan ini, termasuk menganalisis komunikasi antara pilot dan menara kontrol serta memeriksa kondisi fisik pesawat. Hasil investigasi akan diumumkan setelah seluruh proses selesai dilakukan.

Sumber: cnnindonesia.com