Pelajar Indonesia Raih Medali Emas di Olimpiade Sains Internasional Bidang Biologi
Rafah Berduka: Serangan Israel Tewaskan Puluhan Warga Sipil Palestina, Termasuk Wanita dan Anak-anak Rafah, Gaza Selatan - Serangan udara Israel ke Rafah, Gaza Selatan, pada akhir pekan lalu telah mer...
Rafah Berduka: Serangan Israel Tewaskan Puluhan Warga Sipil Palestina, Termasuk Wanita dan Anak-anak
Rafah, Gaza Selatan - Serangan udara Israel ke Rafah, Gaza Selatan, pada akhir pekan lalu telah merenggut nyawa setidaknya 35 warga Palestina dan melukai puluhan lainnya. Serangan yang menyasar lokasi pengungsian warga Gaza ini menuai kecaman internasional dan meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas.
Menurut keterangan dari layanan darurat sipil dan kesehatan Palestina yang beroperasi di Gaza, serangan tersebut menargetkan permukiman Tel Al-Sultan di Rafah bagian barat. Juru bicara Kementerian Kesehatan di Gaza yang dikelola Hamas, Ashraf Al Qidra, mengatakan bahwa sebagian besar korban tewas dan luka adalah perempuan dan anak-anak. Wilayah ini menjadi tempat pengungsian bagi warga Gaza yang mencari perlindungan dari agresi militer Israel yang semakin intensif dalam dua pekan terakhir.
Seorang warga yang tiba di rumah sakit Kuwaiti di Rafah menggambarkan kengerian yang terjadi, "Serangan udara telah membakar tenda-tenda [pengungsi], tenda-tenda itu meleleh, dan jasad orang-orang di dalamnya juga terbakar."
Komite Internasional Palang Merah (ICRC) melaporkan bahwa rumah sakit lapangan di Rafah mengalami lonjakan jumlah pasien luka-luka akibat serangan tersebut.
Pejabat senior Hamas, Sami Abu Zuhri, mengecam serangan Israel sebagai sebuah 'pembantaian' dan menuntut pertanggungjawaban, termasuk dari Amerika Serikat yang memberikan bantuan persenjataan dan finansial kepada Israel.
Kementerian Kesehatan di Gaza mengidentifikasi lima korban tewas pada hari Minggu yang semuanya adalah warga sipil Palestina.
Serangan udara dan operasi darat Israel ini terjadi setelah Mahkamah Internasional (ICJ) di Den Haag memerintahkan Israel untuk menghentikan agresinya di Rafah. Namun, Israel mengabaikan perintah tersebut dan terus melakukan serangan udara serta mengerahkan pasukan operasi darat, termasuk tank, ke perbatasan Rafah.
Warga di Rafah melaporkan bahwa meskipun ada pergerakan pasukan, tank-tank dan tim operasi darat Israel belum memasuki kota tersebut.
Pihak Israel mengklaim bahwa operasi ini bertujuan untuk memburu milisi Hamas dan memaksa mereka keluar dari persembunyian di Gaza, termasuk Rafah. Militer Israel juga mengklaim bahwa serangan ke kamp di Rafah telah ditargetkan secara presisi.
"Insiden ini sedang dikaji kembali," demikian pernyataan militer Israel (IDF) seperti dikutip dari Reuters, menanggapi laporan mengenai korban sipil yang terluka.
Sebagai respons terhadap serangan Israel, sayap militer Hamas meluncurkan roket-roket ke wilayah Israel tengah, termasuk Tel Aviv. Brigade Al-Qassam, dalam sebuah pernyataan yang disiarkan melalui Telegram, menyatakan bahwa serangan roket tersebut merupakan balasan terhadap "Aksi pembantaian zionis terhadap warga sipil [Palestina]."
Militer Israel mengklaim bahwa sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat roket-roket Hamas dari Gaza. Sirene peringatan serangan roket berbunyi di setidaknya 30 lokasi di wilayah pendudukan Israel, termasuk Tel Aviv.
Serangan di Rafah ini semakin memperburuk situasi kemanusiaan di Gaza, di mana ratusan ribu warga sipil telah mengungsi akibat konflik yang berkepanjangan. Bantuan kemanusiaan sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi, termasuk makanan, air bersih, dan layanan kesehatan.
Kecaman internasional terhadap serangan Israel semakin meningkat, dengan seruan untuk penyelidikan independen dan pertanggungjawaban atas pelanggaran hukum humaniter internasional. Negara-negara di seluruh dunia mendesak Israel untuk menghentikan serangannya dan menghormati hak-hak warga sipil Palestina.
Konflik Israel-Palestina yang telah berlangsung puluhan tahun terus menjadi sumber ketegangan dan penderitaan bagi kedua belah pihak. Upaya perdamaian yang komprehensif dan berkelanjutan sangat dibutuhkan untuk mengakhiri siklus kekerasan dan mencapai solusi yang adil dan damai bagi kedua bangsa.
Sumber: cnnindonesia.com