Opini & Editorial 19 Jun 2025, 01:16

Opini: Generasi Z dan Masa Depan Demokrasi Indonesia - Mungkinkah Lebih Baik?

Mencoba Mobil Listrik Mungil Toyota: Coms dan C+Pod, Cocok untuk Mobilitas Perkotaan? Nusa Dua, Bali - Di tengah geliat populasi mobil listrik di Indonesia, Toyota memperkenalkan dua mobil listrik mun...

Mencoba Mobil Listrik Mungil Toyota: Coms dan C+Pod, Cocok untuk Mobilitas Perkotaan?

Nusa Dua, Bali - Di tengah geliat populasi mobil listrik di Indonesia, Toyota memperkenalkan dua mobil listrik mungil, Coms dan C+Pod, yang saat ini masih berstatus riset. Kedua mobil ini hadir sebagai bagian dari upaya Toyota dalam membentuk ekosistem kendaraan ramah lingkungan di Tanah Air. Kesempatan menjajal kedua mobil ini hadir saat berada di Bali, di mana keduanya disewakan kepada publik untuk merasakan sensasi berkendara mobil listrik.

Coms, dengan desain unik menyerupai 'peluru' dan hanya memiliki satu kursi, menjadi pengalaman pertama yang dicoba. Mobil ini berbeda dengan i-Road yang pernah dipamerkan Toyota, karena menggunakan empat roda. Lampu LED berbentuk bulat dengan sein kuning terpisah serta lampu kabut menambah kesan futuristik. Tidak adanya gril depan digantikan dengan panel untuk pengisian baterai.

Memasuki kabin Coms bagi seseorang dengan tinggi 183 cm dan berat 117 kg terasa sedikit menantang. "Posisi kaki harus menekuk sempurna sebelum bisa masuk ke interior," ujar seorang penguji. Namun, setelah berada di dalam, kabin terasa cukup nyaman meski ruang kemudi terasa dekat dengan paha. Sayangnya, mobil ini tidak dilengkapi AC, hanya kipas angin kecil yang kurang efektif mengatasi panas terik matahari.

Menghidupkan Coms menggunakan kunci konvensional, dan layaknya mobil listrik, tidak ada suara mesin yang terdengar. "Impresi awal nyetir Coms memang terasa agak aneh lantaran posisi saya sebagai pengemudi ada di tengah. Posisi ini mengingatkan saya pada angkutan umum beroda tiga, Bajaj," katanya. Setir terasa berat, namun mengemudi Coms tetap menyenangkan, seolah mengendarai mobil-mobilan di jalan raya. Kecepatan maksimal yang dicapai adalah 40 km per jam, cukup untuk mobilitas dalam kota.

Coms menggunakan baterai timbal asam konvensional dengan motor penggerak bertenaga 6,8 PS dan torsi 40 Nm yang disalurkan ke roda belakang. Baterai ini mampu menempuh jarak sekitar 50 km dengan waktu pengisian enam jam dan kecepatan maksimal 60 km per jam. Selama pengujian, kaca jendela terpaksa dibuka untuk membantu sirkulasi udara. "Mengemudi Coms terasa sangat menyenangkan. Namun begitu ketemu jalan rusak agak mengocok perut karena suspensi cukup keras, belum lagi ada suara 'gujlak-gujlak' dari dalam kabin," tambahnya.

Berbeda dengan Coms, C+Pod menawarkan pengalaman berkendara mobil listrik yang lebih konvensional dengan kapasitas dua penumpang. Desain eksterior dan interiornya lebih modern dan dilengkapi tombol untuk menyalakan sistem kelistrikan. Akses masuk dan keluar kabin juga lebih mudah, dan yang terpenting, mobil ini dilengkapi AC.

C+Pod memiliki dimensi panjang 2.490 mm, lebar 1.290 mm, dan tinggi 1.550 mm, serta ground clearance 145 mm. Motor listriknya menghasilkan tenaga 9,2 kW dan torsi 56 Nm, dengan kecepatan maksimal 60 km per jam. Baterai lithium ion berkapasitas 51 Ah memberikan daya jelajah hingga 150 km dalam sekali pengisian penuh. Fitur keselamatan seperti sistem pra-tabrak juga disematkan pada mobil ini.

"Nyetir mobil ini juga terbilang menyenangkan meski di dalam terasa sesak bila ada penumpang lain di sebelah saya. Saya berpikir bila konfigurasi tempat duduk dibuat 1+1 ke belakang mungkin akan lebih nyaman lantaran terasa lebih lega seperti mobil listrik Renault Twizy," ungkap penguji.

Sayangnya, pengujian kedua mobil ini tidak dilakukan pada kondisi jalan menanjak atau macet. Namun, kedua mobil ini dinilai fungsional untuk mobilitas jarak dekat. Bentuknya yang ringkas sangat cocok sebagai mobil rental untuk menemani perjalanan wisata di Bali.

Untuk memaksimalkan layanan, ketersediaan tempat pengisian baterai yang memadai menjadi kunci. Harga yang terjangkau juga menjadi faktor penting untuk menarik minat konsumen. Strategi Toyota dengan memulai layanan sewa dapat menjadi langkah awal untuk memahami kebutuhan konsumen dan pola penggunaan kendaraan listrik di masyarakat. Dengan demikian, Toyota dapat mempersiapkan diri sebelum menjualnya secara resmi di pasar Indonesia.

Sumber: cnnindonesia.com