Opini Ahmad Syafi'i Maarif: Membangun Toleransi dan Kerukunan Umat Beragama di Era Digital
Opini Ahmad Syafi'i Maarif: Membangun Toleransi dan Kerukunan Umat Beragama di Era Digital JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah tantangan polarisasi dan disinformasi yang semakin marak di era digital, pent...
Opini Ahmad Syafi'i Maarif: Membangun Toleransi dan Kerukunan Umat Beragama di Era Digital
JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah tantangan polarisasi dan disinformasi yang semakin marak di era digital, pentingnya membangun toleransi dan kerukunan umat beragama kembali mengemuka. Almarhum Buya Syafi'i Maarif, seorang tokoh cendekiawan Muslim Indonesia, telah memberikan pandangannya tentang isu ini melalui tulisan-tulisan arsipnya yang relevan hingga saat ini. Bagaimana pandangan Buya Syafi'i Maarif tentang toleransi dan kerukunan umat beragama dapat menjadi pedoman di tengah kompleksitas era digital?
Buya Syafi'i Maarif, yang dikenal sebagai sosok yang gigih memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan, menekankan bahwa toleransi bukanlah sekadar sikap menghormati perbedaan, tetapi juga upaya aktif untuk membangun jembatan komunikasi dan pemahaman antarumat beragama. Menurutnya, perbedaan adalah sebuah keniscayaan, dan justru di dalam perbedaan itulah terdapat potensi untuk saling belajar dan memperkaya khazanah peradaban.
Dalam salah satu tulisannya, Buya Syafi'i Maarif menyatakan, "Toleransi adalah ruh dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Tanpa toleransi, mustahil kita dapat membangun masyarakat yang adil dan makmur." Pernyataan ini menunjukkan betapa pentingnya toleransi sebagai fondasi utama dalam membangun harmoni sosial.
Era digital, dengan segala kemudahan akses informasi dan interaksi, menawarkan peluang sekaligus tantangan dalam membangun toleransi dan kerukunan umat beragama. Di satu sisi, media sosial dan platform daring lainnya dapat menjadi sarana efektif untuk menyebarkan pesan-pesan perdamaian dan persaudaraan. Namun, di sisi lain, platform yang sama juga seringkali menjadi lahan subur bagi penyebaran ujaran kebencian, berita bohong (hoaks), dan propaganda yang dapat memecah belah masyarakat.
Buya Syafi'i Maarif mengingatkan bahwa literasi digital menjadi kunci penting dalam menghadapi tantangan ini. Masyarakat perlu dibekali dengan kemampuan untuk memilah dan memilih informasi yang kredibel, serta memiliki kesadaran kritis terhadap berbagai narasi yang beredar di dunia maya. "Kita harus cerdas dalam menggunakan teknologi. Jangan sampai teknologi justru menjadi alat untuk memperkeruh suasana dan merusak hubungan antar sesama," ujarnya.
Selain itu, Buya Syafi'i Maarif juga menekankan pentingnya dialog antarumat beragama sebagai sarana untuk membangun pemahaman yang lebih baik tentang keyakinan dan praktik agama masing-masing. Dialog, menurutnya, bukanlah ajang untuk mencari perbedaan atauSuperioritas, tetapi untuk mencari titik temu dan nilai-nilai universal yang dapat menjadi landasan bersama dalam membangun kehidupan yang harmonis.
"Dialog adalah jalan terbaik untuk mengatasi prasangka dan kesalahpahaman. Melalui dialog, kita dapat saling mengenal, saling menghargai, dan saling mendukung dalam mewujudkan kebaikan bersama," kata Buya Syafi'i Maarif.
Dalam konteks era digital, dialog antarumat beragama dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti webinar, forum diskusi daring, atau kampanye media sosial yang mengangkat tema-tema toleransi dan kerukunan. Penting untuk melibatkan tokoh-tokoh agama, tokoh masyarakat, dan generasi muda dalam dialog ini, sehingga pesan-pesan perdamaian dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Buya Syafi'i Maarif juga menyoroti peran penting pendidikan dalam membentuk karakter generasi muda yang toleran dan inklusif. Pendidikan, menurutnya, harus mampu menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan sejak dini. Kurikulum pendidikan juga perlu memasukkan materi-materi yang relevan tentang keberagaman agama dan budaya, serta sejarah perjuangan para tokoh yang telah berjasa dalam membangun toleransi dan kerukunan di Indonesia.
"Pendidikan adalah investasi masa depan. Dengan pendidikan yang baik, kita dapat menyiapkan generasi muda yang memiliki wawasan luas, sikap terbuka, dan komitmen yang kuat untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa," ujarnya.
Di akhir hayatnya, Buya Syafi'i Maarif meninggalkan warisan pemikiran yang sangat berharga tentang pentingnya membangun toleransi dan kerukunan umat beragama. Pandangannya yang visioner dan relevan ini dapat menjadi pedoman bagi kita semua dalam menghadapi berbagai tantangan di era digital. Dengan mengamalkan nilai-nilai toleransi, literasi digital, dialog, dan pendidikan, kita dapat membangun masyarakat Indonesia yang lebih harmonis, adil, dan makmur.
Sumber: nasional.tempo.co