Internasional 18 Jun 2025, 01:52

Harga Minyak Dunia Hari Ini 17 Juni 2025 Turun Parah, Ini Gara-garanya

Harga Minyak Dunia Hari Ini 17 Juni 2025 Turun Drastis, Isu Gencatan Senjata Iran-Israel Jadi Pemicu Jakarta - Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan signifikan pada perdagangan hari ini, Selas...

Harga Minyak Dunia Hari Ini 17 Juni 2025 Turun Drastis, Isu Gencatan Senjata Iran-Israel Jadi Pemicu

Jakarta - Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan signifikan pada perdagangan hari ini, Selasa (17/6/2025). Penurunan ini dipicu oleh sinyalemen bahwa Iran menginginkan gencatan senjata dengan Israel, meredakan kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah.

Harga minyak mentah AS (West Texas Intermediate/WTI) turun sebesar USD 1,21 atau 1,66%, dan ditutup pada level USD 71,77 per barel. Sementara itu, patokan harga minyak global, Brent, juga mengalami penurunan sebesar USD 1 atau 1,35%, menjadi USD 73,23 per barel.

Penurunan ini mengakhiri reli harga minyak yang sempat melonjak lebih dari 7% pada hari Jumat lalu, setelah Israel melancarkan serangkaian serangan udara terhadap program rudal balistik dan nuklir Iran. Serangan tersebut menyasar fasilitas dan kepemimpinan militer Iran.

Iran Beri Sinyal Gencatan Senjata

Titik balik terjadi ketika Iran mengindikasikan keinginannya untuk meredakan ketegangan. Teheran dilaporkan telah meminta Qatar, Arab Saudi, Oman, Turki, dan beberapa negara Eropa untuk menekan Presiden Donald Trump agar membujuk Israel melakukan gencatan senjata. Sebagai imbalan, Iran menawarkan fleksibilitas dalam perundingan nuklir.

Presiden Trump sendiri mengonfirmasi adanya sinyal tersebut. "Mereka ingin berbicara, tetapi mereka seharusnya sudah melakukannya sebelumnya. Mereka seharusnya berbicara dan mereka seharusnya berbicara segera sebelum terlambat," ujarnya.

Optimisme Pasar Mereda

Optimisme bahwa konflik tidak akan berdampak material pada pasar energi global dan bahwa jalur pelayaran penting seperti Teluk Persia dan Selat Hormuz akan tetap terbuka, juga berkontribusi pada penurunan harga.

Sempat menyentuh level tertinggi semalam di USD 77,49 per barel setelah serangan Israel terhadap fasilitas gas alam di Iran, harga kemudian berbalik turun.

Proyeksi Harga Minyak ke Depan

Meskipun terjadi konflik, firma konsultan Rystad Energy meyakini harga minyak tidak akan menembus di atas USD 80 per barel. Mereka berpendapat bahwa pemerintahan Trump menginginkan harga minyak tetap rendah, di kisaran USD 50 per barel, dan berkepentingan untuk menahan konflik agar harga energi tidak meroket.

"Kami tetap berpandangan bahwa konflik ini kemungkinan akan berlangsung singkat, karena eskalasi lebih lanjut berisiko melampaui kendali para pemangku kepentingan utama," kata Wakil Presiden Pasar Komoditas Rystad, Janiv Shah.

Namun, analis lain memperingatkan agar tidak terlalu cepat berasumsi bahwa konflik akan berakhir dalam waktu dekat. Kepala Strategi Komoditas Global di RBC Capital Markets, Helima Croft, mengatakan bahwa Israel tampaknya bersiap menghadapi konflik yang lebih panjang.

"Israel tampaknya bersiap menghadapi konflik yang lebih panjang," kata Croft. Konflik yang berlarut-larut meningkatkan risiko bahwa fasilitas dan infrastruktur ekspor minyak di wilayah tersebut dapat menjadi sasaran.

Serangan Terhadap Infrastruktur Energi

Sejauh ini, serangan yang terjadi baru menyasar infrastruktur energi domestik. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa pesawat nirawak Israel menyerang ladang gas South Pars di Iran selatan pada hari Sabtu, menargetkan dua fasilitas pemrosesan gas alam. Selain itu, depot minyak utama di dekat Teheran juga dilaporkan menjadi sasaran serangan.

Di sisi lain, rudal Iran dilaporkan merusak kilang minyak di Haifa, Israel.

Ancaman Penutupan Selat Hormuz

Ketegangan yang meningkat memunculkan kembali ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang dilalui sekitar seperlima minyak dunia. Komandan senior Iran, Esmail Kowsari, mengatakan pada hari Sabtu bahwa negaranya sedang mempertimbangkan opsi tersebut.

Goldman Sachs memperkirakan bahwa penutupan Selat Hormuz dapat mendorong harga minyak di atas USD 100 per barel. Meskipun Iran akan menghadapi kesulitan dalam menutup selat tersebut karena keberadaan Armada Kelima AS di Bahrain, mereka masih dapat menargetkan kapal tanker atau menambang selat tersebut, menurut Croft.

Sumber: liputan6.com