Opini & Editorial 14 Jun 2025, 07:46

Editorial Republika: Memperkuat Ketahanan Pangan Nasional di Tengah Gejolak Global

Editorial Republika: Memperkuat Ketahanan Pangan Nasional di Tengah Gejolak Global JAKARTA – Di tengah gejolak geopolitik dan perubahan iklim yang semakin nyata, ketahanan pangan nasional menjadi isu...

Editorial Republika: Memperkuat Ketahanan Pangan Nasional di Tengah Gejolak Global

JAKARTA – Di tengah gejolak geopolitik dan perubahan iklim yang semakin nyata, ketahanan pangan nasional menjadi isu krusial yang memerlukan perhatian serius. Editorial Republika hari ini menyoroti urgensi diversifikasi sumber pangan sebagai langkah strategis untuk memperkuat fondasi ketahanan pangan Indonesia.

Gejolak global, seperti konflik bersenjata antara Iran dan Israel yang baru-baru ini memanas, dapat mengganggu rantai pasokan pangan dunia. Serangan yang saling berbalas, seperti yang dilaporkan media Teheran dan dikonfirmasi oleh IDF, berpotensi melumpuhkan jalur perdagangan dan distribusi bahan pangan. Selain itu, perubahan iklim ekstrem juga menjadi ancaman nyata bagi produksi pertanian di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Diversifikasi sumber pangan menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan pada satu atau beberapa komoditas tertentu. Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, termasuk berbagai jenis tanaman pangan lokal yang belum dimanfaatkan secara optimal. Pengembangan dan promosi tanaman-tanaman ini dapat menjadi solusi alternatif untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.

"Diversifikasi pangan bukan hanya tentang mencari alternatif pengganti nasi, tetapi juga tentang memanfaatkan potensi sumber daya lokal yang ada," demikian disampaikan seorang ahli pangan dalam sebuah diskusi daring. "Kita harus berani mengubah paradigma konsumsi masyarakat dan lebih menghargai produk-produk lokal yang memiliki nilai gizi tinggi."

Selain diversifikasi sumber pangan, pemerintah juga perlu memperkuat infrastruktur pertanian, meningkatkan produktivitas lahan, dan memberikan dukungan kepada petani. Investasi di sektor pertanian harus menjadi prioritas utama untuk memastikan ketersediaan pangan yang cukup dan terjangkau bagi seluruh masyarakat.

Presiden Joko Widodo, dalam sebuah kesempatan terpisah, membuka peluang bagi sektor swasta untuk berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur pertanian. Hal ini disambut baik oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia sebagai angin segar bagi peningkatan investasi di sektor pertanian.

Namun, upaya memperkuat ketahanan pangan nasional tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan sektor swasta. Masyarakat juga memiliki peran penting dalam mendukung program diversifikasi pangan. Dengan mengubah pola konsumsi dan lebih memilih produk-produk lokal, masyarakat dapat membantu meningkatkan permintaan dan mendorong produksi tanaman pangan lokal.

Selain itu, edukasi mengenai pentingnya gizi seimbang dan pola makan sehat juga perlu ditingkatkan. Masyarakat perlu memahami bahwa makanan yang sehat tidak harus mahal dan impor. Banyak bahan pangan lokal yang memiliki nilai gizi tinggi dan terjangkau.

Di sisi lain, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mendorong fortifikasi pangan untuk memperkuat sumber daya manusia (SDM). Inisiatif seperti Millers for Nutrition diharapkan dapat meningkatkan kualitas gizi masyarakat melalui penambahan zat gizi penting pada produk-produk pangan yang dikonsumsi sehari-hari.

Namun, upaya peningkatan ketahanan pangan juga menghadapi tantangan. Salah satunya adalah masalah pencemaran lingkungan yang dapat mengancam produktivitas pertanian. Kasus penyegelan dua pabrik di Kabupaten Bekasi karena mencemari udara menjadi contoh nyata bahwa perlindungan lingkungan harus menjadi bagian integral dari upaya peningkatan ketahanan pangan.

Dalam konteks ekonomi, Bank Indonesia (BI) memperkirakan penjualan ritel pada Mei 2025 mengalami kontraksi. Hal ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat masih menjadi perhatian. Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi dan meningkatkan daya beli masyarakat agar dapat mengakses pangan yang cukup dan berkualitas.

Eskalasi ketegangan di Timur Tengah juga memberikan dampak terhadap nilai tukar rupiah. Pada Jumat, 13 Juni 2025, rupiah tertekan hingga menyentuh Rp 16.303 per dolar AS. Kondisi ini dapat mempengaruhi harga impor bahan pangan dan berdampak pada inflasi.

Memperkuat ketahanan pangan nasional adalah investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa. Dengan diversifikasi sumber pangan, peningkatan infrastruktur pertanian, dukungan kepada petani, dan partisipasi aktif masyarakat, Indonesia dapat menghadapi gejolak global dan perubahan iklim dengan lebih percaya diri. Ketahanan pangan adalah fondasi bagi stabilitas ekonomi, sosial, dan politik bangsa.

Sumber: news.republika.co.id