Opini & Editorial 17 Jul 2025, 23:01

Editorial: Evaluasi Kebijakan Energi Terbarukan: Saatnya Percepatan Implementasi

Kolak Srikaya Kauman Sidoarjo: Manisnya Ramadhan yang Terus Dilestarikan SIDOARJO, DetikNews - Di tengah maraknya hidangan modern, kolak srikaya tetap menjadi primadona kuliner khas Ramadhan di Sidoar...

Kolak Srikaya Kauman Sidoarjo: Manisnya Ramadhan yang Terus Dilestarikan

SIDOARJO, DetikNews - Di tengah maraknya hidangan modern, kolak srikaya tetap menjadi primadona kuliner khas Ramadhan di Sidoarjo, Jawa Timur. Hidangan manis ini, khususnya di wilayah Kauman, menjadi buruan warga setiap kali bulan puasa tiba. Meskipun namanya mengandung kata "srikaya," kolak ini justru tidak menggunakan buah srikaya sebagai bahan utamanya. Lalu, apa yang membuatnya begitu istimewa dan mengapa keberadaannya semakin sulit ditemukan?

Kolak srikaya Kauman memiliki perbedaan signifikan dibandingkan kolak pada umumnya. Cita rasanya jauh lebih manis dan proses pembuatannya pun unik. Santan kental menjadi kunci utama, dipadukan dengan aroma harum daun pandan, potongan pisang raja yang legit, roti tawar sebagai penambah tekstur, kolang-kaling yang kenyal, telur untuk memberikan kekayaan rasa, vanili cair untuk aroma yang menggoda, dan gula sebagai pemanis utama. Semua bahan ini dikukus bersama selama 20-25 menit hingga matang dan meresap sempurna.

Keunikan rasa dan cara pembuatan inilah yang menjadikan kolak srikaya begitu digemari. Namun, ironisnya, jumlah penjualnya dari tahun ke tahun semakin menyusut. Ifa Mutia, salah seorang pembuat kolak srikaya di Kauman, mengungkapkan keprihatinannya.

"Meski kolak srikaya hanya bisa ditemukan di Kauman, Sidoarjo, namun sekarang semakin sulit menemukannya karena penjualnya terus berkurang," ujarnya saat ditemui DetikNews, Senin (3/3/2025).

Meskipun demikian, Ifa tetap bersemangat melestarikan kuliner warisan leluhurnya ini. Setiap bulan Ramadhan, ia selalu menyajikan kolak srikaya sebagai menu berbuka puasa. Bahkan, dalam sehari, ia mampu menjual hingga 200 mangkok.

"Kalau weekend bisa menghabiskan 300 mangkok, tapi hari biasa cuma 200 mangkok," imbuh Ifa, menunjukkan betapa tingginya permintaan akan kolak srikaya.

Ifa telah berjualan kolak srikaya selama 15 tahun dan bertekad untuk terus mempertahankan eksistensi kuliner khas Sidoarjo ini agar tidak punah. Ia melihat bahwa kolak srikaya bukan hanya sekadar hidangan, tetapi juga bagian dari identitas dan tradisi masyarakat Kauman.

"15 tahun lalu saya mengawali menjual, hingga saat ini tetap berjualan kolak srikaya ini. Kami tetap berusaha mempertahankan kuliner khas Sidoarjo ini agar tidak punah," tegasnya.

Nursanti (26), warga Tanggulangin, adalah salah satu pelanggan setia kolak srikaya Kauman. Setiap Ramadhan, ia selalu menyempatkan diri untuk membeli hidangan manis ini.

"Kolak srikaya di Kauman ini beda. Rasanya manis dan legit, cocok untuk berbuka puasa," kata Nursanti.

Senada dengan Nursanti, Dinda (19), pelanggan lainnya, juga menganggap kolak srikaya sebagai hidangan wajib keluarganya saat berbuka.

"Selain enak dan manis, harganya juga terjangkau. Kalau dimakan selagi hangat, rasanya seperti mengembalikan tenaga setelah seharian berpuasa," ungkap Dinda dengan antusias.

Kolak srikaya memang bukan sekadar pengisi perut saat berbuka puasa. Lebih dari itu, ia adalah simbol tradisi, kebersamaan, dan nostalgia. Rasa manisnya mengingatkan pada kenangan masa kecil dan kehangatan keluarga.

Meskipun tantangan yang dihadapi para penjual kolak srikaya semakin besar, hidangan ini tetap bertahan dan menjadi favorit warga Sidoarjo. Upaya pelestarian yang dilakukan oleh Ifa Mutia dan penjual lainnya patut diapresiasi. Semoga, kolak srikaya Kauman tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang, sehingga tradisi manis ini tidak akan pernah hilang ditelan zaman.

Sumber: news.detik.com