Pendidikan 21 Jun 2025, 10:58

BRIN Jelaskan Pengaruh Fenomena Solstis Hari Ini, 21 Juni 2025 untuk Indonesia

BRIN Jelaskan Pengaruh Fenomena Solstis 21 Juni 2025 untuk Indonesia Jakarta - Fenomena Solstis Musim Panas atau Titik Balik Matahari akan terjadi pada 21 Juni 2025 di Belahan Bumi Utara. Meskipun fen...

BRIN Jelaskan Pengaruh Fenomena Solstis 21 Juni 2025 untuk Indonesia

Jakarta - Fenomena Solstis Musim Panas atau Titik Balik Matahari akan terjadi pada 21 Juni 2025 di Belahan Bumi Utara. Meskipun fenomena ini identik dengan awal musim panas di wilayah tersebut, dampaknya juga dirasakan di Indonesia. Bagaimana fenomena astronomi ini memengaruhi pola musim di Tanah Air?

Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa solstis merupakan titik balik penting dalam pergerakan semu tahunan matahari. Fenomena ini memiliki dampak signifikan terhadap pola musim global, termasuk di Indonesia.

"Fenomena solstis adalah hasil kemiringan 23,5 derajat sumbu rotasi bumi. Karena itu, saat bumi mengorbit matahari, kita melihat pergeseran posisi terbit dan terbenam matahari," kata Thomas, dikutip dari keterangan BRIN, Sabtu (21/6/2025).

Apa Itu Solstis?

Solstis utara adalah momen ketika matahari mencapai posisi paling utara di langit Bumi. Fenomena ini terjadi karena kemiringan sumbu rotasi bumi saat mengelilingi matahari. Sejak 22 Desember hingga 21 Juni, titik terbit dan terbenam matahari secara perlahan bergeser ke arah utara. Pada 21 Juni, matahari tampak berhenti di titik paling utara sebelum akhirnya bergeser kembali ke selatan.

Thomas menambahkan, pada solstis utara, matahari mencapai titik paling utara di langit dan menjadi penanda penting dalam siklus musim.

Dampak Solstis bagi Indonesia

Di Belahan Bumi Utara, seperti Eropa, Amerika Utara, dan Asia bagian utara, solstis menandai awal musim panas. Sementara itu, di Belahan Bumi Selatan, solstis menjadi penanda awal musim dingin. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Menurut Thomas, fenomena solstis di utara menjadi penanda awal musim kemarau di Indonesia. Perubahan posisi matahari menyebabkan pergeseran pemanasan bumi, yang kemudian memengaruhi arah angin dan pergerakan awan.

"Setelah solstis utara, angin secara umum mulai bertiup dari selatan ke utara. Angin ini mendorong pembentukan awan ke arah utara, sehingga Indonesia secara umum mulai memasuki musim kemarau," jelasnya.

Pentingnya Memahami Fenomena Astronomi

Thomas menekankan pentingnya memahami fenomena astronomi seperti solstis untuk berbagai sektor, mulai dari pertanian hingga mitigasi bencana. Dengan memahami pola astronomi, berbagai pihak dapat mengantisipasi peralihan musim dengan lebih baik.

"Fenomena-fenomena astronomi seperti solstis dan lain-lain ini penting untuk sektor pertanian, mitigasi bencana, hingga prakiraan musim di berbagai negara, termasuk Indonesia," ujarnya.

Solstis dalam Tradisi Masyarakat

Jika Stonehenge di Inggris kerap menjadi sorotan karena digunakan untuk memantau posisi matahari terkait musim, masyarakat Indonesia memiliki cara tersendiri. Bayangan stupa Borobudur digunakan untuk memantau posisi matahari terkait peralihan musim.

"Fenomena solstis utara bukan hanya peristiwa langit yang menarik tetapi juga berperan sebagai penanda awal musim, termasuk di Indonesia," kata Thomas.

Oleh karena itu, Thomas mendorong agar publik mendapatkan edukasi tentang fenomena-fenomena langit untuk meningkatkan literasi sains. Pemahaman tentang fenomena astronomi dapat membantu masyarakat dalam mengantisipasi perubahan musim dan dampaknya terhadap berbagai aspek kehidupan.

Sumber: liputan6.com