BPS Umumkan Pertumbuhan Ekonomi Hari Ini, Sesuai Ramalan Sri Mulyani?
BPS Umumkan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2022 Hari Ini, Sesuai Ramalan Sri Mulyani? Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini, Senin (8/8/2022), dijadwalkan akan mengumumkan ang...
BPS Umumkan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2022 Hari Ini, Sesuai Ramalan Sri Mulyani?
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini, Senin (8/8/2022), dijadwalkan akan mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk kuartal II-2022. Pengumuman ini menjadi sorotan utama setelah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya menyatakan optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi pada periode ini akan berada di atas 5%.
Kalangan ekonom memberikan proyeksi yang beragam terkait angka pertumbuhan ekonomi ini. Ryan Kiryanto, Ekonom dan Co-Founder & Dewan Pakar Institute Social, Economics and Digital, memperkirakan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal II-2022 akan tumbuh 5,1% secara tahunan (year on year/yoy).
"Pertumbuhan ini didukung oleh pemulihan perekonomian, terutama dari sisi belanja rumah tangga yang diperkirakan tumbuh 5,2% yoy, investasi langsung (PMTB), belanja pemerintah, dan surplus ekspor-impor," ujar Ryan.
Ryan menjelaskan bahwa kontribusi utama terhadap pertumbuhan ekonomi berasal dari konsumsi rumah tangga domestik (sekitar 56%), belanja pemerintah (10%), investasi (30%), dan ekspor-impor (4%). Secara spasial, ia memprediksi bahwa Pulau Jawa akan mencatat pertumbuhan lebih tinggi, yaitu sekitar 5,2%, dibandingkan dengan angka nasional (5,1%), dengan kontribusi tertinggi berasal dari Jawa (54%), diikuti oleh Sumatera (21%), dan sisanya dari Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali, dan Nusa Tenggara.
"Pembukaan aktivitas menjadi faktor utama pemicu pemulihan ekonomi, terutama di Mei-Juni karena libur panjang mendorong mobilitas orang dengan konsumsi hospitality atau kuliner (makanan, minuman) dan transportasi yang tinggi sehingga menjadi penyebab dominan kenaikan inflasi mendekati 4,5% per Juni," tambahnya.
Sementara itu, Ekonom PermataBank Josua Pardede memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2022 akan berada di kisaran 4,88% yoy. Ia berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi akan ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor.
"Konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh sekitar 5,25% yoy, meningkat dari kuartal sebelumnya (4,34% yoy)," kata Josua.
Josua menunjuk pada indikator-indikator utama konsumsi yang mencatatkan kondisi solid pada kuartal II-2022, seperti mobilitas masyarakat, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), penjualan eceran, penjualan otomotif, pertumbuhan uang beredar (M2), dan inflasi sisi permintaan.
IKK pada akhir kuartal II-2022 tercatat tetap kuat, yaitu sebesar 128,2, meningkat dari IKK pada kuartal I 2022 sebesar 111. Penjualan eceran pada kuartal II-2022 tercatat tumbuh 15,4% yoy, meningkat dari kuartal sebelumnya (9,3% yoy). Pertumbuhan uang beredar (M2) pada akhir kuartal II-2022 tumbuh 10,6% yoy, melambat dari akhir kuartal I-2022 yang tercatat 13,3% yoy.
"Inflasi inti yang mengindikasikan sisi permintaan pada kuartal I-2022 juga menunjukkan tren kenaikan dengan laju 2,63% yoy dari akhir kuartal sebelumnya yang tercatat tumbuh 2,37% yoy," jelas Josua.
Namun, Josua juga mencatat adanya perlambatan pada penjualan mobil secara ritel (8,3% yoy, turun dari 33,7% yoy pada kuartal sebelumnya) dan kontraksi pada penjualan motor (-14,9% yoy, turun dari -2,4% yoy pada kuartal sebelumnya).
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) dalam seri analisis Makroekonomi Indonesia Economic Outlook memperkirakan ekonomi Indonesia pada kuartal II akan tumbuh 5,07%. Proyeksi ini didasarkan pada pelonggaran pembatasan mobilitas sosial dan realisasi vaksinasi yang lebih cepat, yang mendukung pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang signifikan.
"Terlepas dari tekanan eksternal yang dapat mengarah pada kombinasi perlambatan ekonomi dan peningkatan tekanan inflasi, data sektor riil Indonesia menunjukkan bahwa aktivitas konsumen dan produsen masih bertahan kuat," tulis LPEM FEB UI.
Pengumuman resmi dari BPS hari ini akan menjadi penentu apakah proyeksi dari pemerintah dan para ekonom ini akurat. Pertumbuhan ekonomi yang kuat akan menjadi sinyal positif bagi pemulihan ekonomi Indonesia pasca pandemi, meskipun tantangan inflasi dan ketidakpastian global masih membayangi. Hasil pengumuman BPS akan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kinerja ekonomi Indonesia dan arah kebijakan yang mungkin diambil oleh pemerintah ke depannya.
Sumber: finance.detik.com